SETRA GANDA MAYU (Gandamayu) adalah setra sebagai titik awal perjalanan bagi sang atman ke alam baka atau alam halus bhwah loka yang sebagaimana disebutkan majalah hindu raditya dalam mitos pohon angker dan kuburan, Setra Ganda Mayu berasal dari suku kata sansekerta yaitu :
➡ SETRA artinya kuburan,
➡ GANDA berarti harum dan
➡ MAYU berarti mayat.
Jadi Setra Ganda Mayu artinya, sebuah tempat di mana mayat (jenazah) manusia diperlakukan sedemikian rupa, sehingga di tempat inilah mayat-mayat dimuliakan atau diperlakukan dengan menghormatinya, sehingga roh dari mayat-mayat tersebut akhirnya memperoleh keharuman (kebahagiaan) di alam sana.
Inilah sebabnya, mengapa sesungguhnya setra atau kuburan merupakan tempat suci. Di setra menjadi salah satu tempat, di mana para keluarga dari orang yang meninggal dunia mendoakan roh atman orang tersebut supaya mendapat tempat di alam yang terang. Dengan demikian, setra dalam konsep Hindu Dharma bukanlah tempat membuang jenazah saja sebagaimana dapat dilihat dari penampakan fisik, tetapi setra juga merupakan titik awal perjalanan bagi sang roh ke alam baka yaitu alam halus bhwah loka).
Meskipun setra sejatinya merupakan areal yang disucikan, toh secara umum masyarakat menganggap tempat semacam itu sebagai tempat angker, entah itu di dunia Timur maupun Barat sekalipun. Paling tidak di belahan dunia Barat, kepercayaan akan kuburan kuno yang angker sering bisa kita saksikan dalam tayangan – tayangan film. Sementara di Nusantara, sebagian besar masyarakatnya memang mengasosiasikan kuburan sebagai tempat yang menyeramkan.
Di Bali, kuburan menjadi pusat berbagai ritual rahasia para praktisi ilmu gaib, terutama dari disiplin tantrik.
Vidya tantrik sebagai sebuah sadhana spiritual untuk mencapai pembebasan rohani, maupun
avidya tantrik yang mengembangkan magis destruktif, sama-sama menjadikan kuburan sebagai “laboratoriumnya.”
Dalam falsafah murni tantrik atau tantra, kuburan sebagai tempat berguru terbaik,
Di mana ruang ini memberikan manusia suatu kesadaran, bahwa manusia pada akhirnya menjadi tulang-belulang yang setara dengan seonggok sampah.
Dengan kesadaran, bahwa tubuh merupakan suatu materi yang tak kekal, maka para pengikut tantris melakukan perenungan (yoga sadhana) di kuburan untuk mencari hakikat yang lebih dalam dari fisik.
Dengan perenungan ini, seorang praktisi tantrik kemudian menemukan kesadaran rohani, sebagai suatu yang lebih mulai melampaui badan dan seluruh perhatian pun kemudian dipusatkan kepada keberadaan dan pertumbuhan rohani ini.
Dalam lontar-lontar disebutkan, kalau sejumlah orang suci mencapai pencerahan di kuburan, misalnya Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Mpu Bradah, dan lain-lain. Kuburan sangat baik di dalam membantu manusia menumbuhkan rasa pasrah dan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dengan kepasrahan dan ketulusan ini, sadhana spiritual bisa berhasil lebih cepat.
Inilah keutamaan kuburan. Hanya saja, karena di Bali
mungkin dalam sejarahnya, yang melakukan ritual yadnya rahasia di kuburan lebih sering para penganut avidya tantrik, atau mereka yang termotivasi berbuat jahat, akhirnya citra kuburan sebagai tempat suci berubah menjadi tempat menyeramkan, leteh (cuntaka), sumber kejahatan dan sebagainya.
Citra kuburan sebagai tempat angker juga dipengaruhi pengalaman sejumlah orang yang pernah melihat hantu kuburan dan menjadi sumber ketakutan bagi banyak orang.
Sesungguhnya hantu kuburan ini adalah badan etheris dari jazad orang yang meninggal dan baru dikubur,
Badan etheris terbentuk dari bahan yang amat halus yang tak dapat ditangkap dengan indra biasa.
Badan etheris ini merupakan pasangan badan fisik dan bentuknya pun serupa.
Bila seseorang masih hidup, maka badan etheris bisa dipisahkan dengan badan fisik, tetapi tak bisa berada jauh dari tubuh fisik.
Pada saat kematian, atman (sang aku; sarira kosha) ke luar badan bersama-sama dengan badan etheris.
Dan seseorang benar-benar dikatakan meninggal dunia, bila benang penghubung (sutratman) antara badan fisik dan badan etheris terputus dan jika belum terputus, badan etheris inilah yang sering nampak sebagai hantu kuburan yang bisa dilihat oleh orang yang peka.
Selama benang penghubung (sutratman) antara badan fisik dan badan etheris belum terputus, maka selama itu pula orang yang walaupun sudah dikatakan mengalami proses kematian, dia dapat hidup kembali, pada detik terputusnya tali sutratman inilah kita mati dan tidak mungkin lagi untuk hidup kembali. Bersamaan dengan putusnya tali sutratman tadi yang dalam upacara ngaben disebutkan menggunakan tirtha pengentas sebagai pemutus ikatan tersebut sehingga prana di ubun-ubun juga buyar, kembali kepada samudera besar energi prana (kehidupan) yang universal. Maka hal ini sangatlah prinsip dalam perjalanan suci sang atman ke alam baka.
sumber: beritasatu, sejarahharirayahindu
Kamis, 05 Januari 2017
Jumat, 30 Desember 2016
KAJENG KLIWON
KAJENG KLIWON – Sang Tiga Bhucari
Dalam setiap penanggalan pertemuan Pancawara (Umanis Pahing Pon Wage Kliwon) dengan Triwara (Pasah Beteng Kajeng) diperingati sebagai hari turunnya para bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan dharma agama dan pada hari ini pula para bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma. Rerainan Kajeng kliwon diperingati setiap 15 hari sekali pada saat itu kita menghaturkan segehan Mancawarna. Maksud dan tujuan menghaturkan segehan ini merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa) telah mengembalikan (Somya) Sang Tigabhucari. Berarti kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa (penuh sinar), sedangkan sekalanya kita selalu berbuat trikaya parisudha dan niskalanya menyomyakan bhuta menjadi dewa dengan harapan dunia seimbang.
Dyah Maya Kresna rupanya putih kekuning-kuningan menjadi Sang Batur Kalika.
Sang Bajradhaksa menjadi bhuta ijo (berwarna hijau/Sang Bhuta Wilis)
Sang Bajrangkara menjadi bhuta abang (berwarna merah/Sang Kala Ranta). Itulah yang disebut Durgga Bhucari, Bhuta Bhucari dan Kala Bhucari. Selain Sang Tigabhucari masih ada jenis bhuta yang sering menganggu manusia dalam melaksanakan dharma agamanya. Para bhuta tersebut ada;
Berwujud manusia
Bake : bertubuh hitam seperti manusia, selalu muncul tengah malam tingal disemak-semak.
Bakis-botong : berwujud manusia kate, berkepala gundul, berkulit putih pucat, dia muncul siang hari, tinggal dirumah manusia yang kosong tanpa penghuni.
Memedi : seperti manusia berambut merah seperti api, kulit menyala merah, muncul pada waktu tengah hari bertempat tinggal ditegalan kosong.
Papengkah : berwujud manusia dengan perut gendut, besar dan buncit. Muncul pada waktu siang dan malam hari tinggal disembarang tempat.
Raregek-tunggek : berwujud gadis cantik tetapi punggungnya terbuka tanpa tulang belakang dan tulang iga (di Jawa disebut Sundel Bolong) sehingga isi rongga dadanya dan isi perutnya kelihatan dari belakang. Dia tinggal di semak belukar, di air terjun, dekat danau, sumur, payau, kuburan sering muncul malam hari.
Samar : berbentuk manusia tetapi tanpa lekukan pada bibir atas, berdiam di semak-semak, dan muncul sore hari. Biasanya berkumpul menjadi satu keluarga seperti manusia, sehingga sering disebut wong samar dan hidup seperti manusia tetapi tidak dapat dilihat oleh manusia awam. Sewaktu-waktu jika dia berkehendak dilihat oleh manusia dia akan memperlihatkan dirinya dan bergaul dengan manusia. Di Bali mayoritas wong samar ini bertempat tinggal di daerah Pulaki Buleleng. Pada umumnya wong samar ini bersifat baik.
Tonya : berwujud manusia tinggi besar, berdiam di pohon yang rindang dan besar. Paling senang diam dipohon beringin, bunut, kepuh, rangdu dan sejenisnya. Tonya ini jarang berkeliaran tidak pernah pergi jauh dari pohon tempat tinggalnya. Sering muncul pada malam hari, jarang siang hari.
Berwujud bagian tubuh manusia
Kumangmang : hanya terdiri atas kepala saja dengan rambut seperti menyala. Bertempat tinggal dilapangan terbuka, di tegalan, juga di semak-semak. Jalannya mengelinding seperti kelapa terbakar, muncul siang hari juga malam hari.
Lawean : berwujud badan manusia tanpa lengan tungkai dan kepala. Bertempat tinggal di semak belukar tetapi sering juga di rumah-rumah penduduk, muncul pada malam hari, kerap juga muncul siang hari.
Tangan-tangan : hanya terdiri atas tangan saja. Jalannya terbang melayang diudara. Bertempat tinggal dirumah penduduk, tempat yang kosong atau semak-semak. Muncul pada waktu malam hari kadang siang hari.
Enjek-pupu : terdiri atas paha sampai kaki, hanya sebelah tungkai saja tanpa badan. Kalau berjalan injakan tapak kakinya menimbulkan suara atau bunyi yang halus dan berirama, merindingkan bulu roma. Biasanya muncul malam hari, mengitari pekarangan rumah menyusuri tembok, bertempat inggal dirumah yang kosong.
Katugtug : terdiri hanya dari lutut ke bawah. Karena suara atau bunyi injakan kakinya yang khas, yakni tug-tug-tug, maka bhuta ini disebut katugtug. Biasanya muncul pada malam hari, tinggal dirumah yang kosong.
Berwujud kerangka manusia
Bhuta jenis ini disebut jerangkong yang terdiri dari rangka yang dapat bergerak, terutama malam hari tinggal ditempat rumah yang kosong.
Berwujud binatang
Anja-anja : berwujud binatang berkaki empat berkepala seperti raksasa, mata melotot besar dengan mulut lebar bertaring panjang dan berambut terurai.
Banaspati-raja : berwujud macan. Sering dari badannya keluar api, sehingga seperti harimau terbakar.
Hanya manusia yang telah melaksanakan dharma dan selaluingat lan eling ngastiti bhakti ring Dewa Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) badannya tidak bisa dilekati oleh para bhuta-bhuti dan Panca Mahabhuta (Sri Durga Dewi / akasa / timur, Dadari Durga / teja / selatan, Sukri Dewi / bayu / barat, Raji Durga / apah / utara, Dewi Durga / pertiwi / dalam tanah).
Kalau manusia kuat dan mampu mengendalikan lima bhuta ini maka mereka akan menjadi sahabat manusia, dan sehatlah manusia. Tetapi kalau manusia mencemari unsur Panca Mahabhuta ini maka dimusuhilah dan krodalah dia menjadi durga menyebabkan manusia menjadi sakit.
Sumber : kb.alitmd.com
Dalam setiap penanggalan pertemuan Pancawara (Umanis Pahing Pon Wage Kliwon) dengan Triwara (Pasah Beteng Kajeng) diperingati sebagai hari turunnya para bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan dharma agama dan pada hari ini pula para bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma. Rerainan Kajeng kliwon diperingati setiap 15 hari sekali pada saat itu kita menghaturkan segehan Mancawarna. Maksud dan tujuan menghaturkan segehan ini merupakan perwujudan bhakti dan sradha kita kepada Hyang Siwa ( Ida Sang Hyang Widhi Wasa) telah mengembalikan (Somya) Sang Tigabhucari. Berarti kita telah mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam dewa (penuh sinar), sedangkan sekalanya kita selalu berbuat trikaya parisudha dan niskalanya menyomyakan bhuta menjadi dewa dengan harapan dunia seimbang.
Dyah Maya Kresna rupanya putih kekuning-kuningan menjadi Sang Batur Kalika.
Sang Bajradhaksa menjadi bhuta ijo (berwarna hijau/Sang Bhuta Wilis)
Sang Bajrangkara menjadi bhuta abang (berwarna merah/Sang Kala Ranta). Itulah yang disebut Durgga Bhucari, Bhuta Bhucari dan Kala Bhucari. Selain Sang Tigabhucari masih ada jenis bhuta yang sering menganggu manusia dalam melaksanakan dharma agamanya. Para bhuta tersebut ada;
Berwujud manusia
Bake : bertubuh hitam seperti manusia, selalu muncul tengah malam tingal disemak-semak.
Bakis-botong : berwujud manusia kate, berkepala gundul, berkulit putih pucat, dia muncul siang hari, tinggal dirumah manusia yang kosong tanpa penghuni.
Memedi : seperti manusia berambut merah seperti api, kulit menyala merah, muncul pada waktu tengah hari bertempat tinggal ditegalan kosong.
Papengkah : berwujud manusia dengan perut gendut, besar dan buncit. Muncul pada waktu siang dan malam hari tinggal disembarang tempat.
Raregek-tunggek : berwujud gadis cantik tetapi punggungnya terbuka tanpa tulang belakang dan tulang iga (di Jawa disebut Sundel Bolong) sehingga isi rongga dadanya dan isi perutnya kelihatan dari belakang. Dia tinggal di semak belukar, di air terjun, dekat danau, sumur, payau, kuburan sering muncul malam hari.
Samar : berbentuk manusia tetapi tanpa lekukan pada bibir atas, berdiam di semak-semak, dan muncul sore hari. Biasanya berkumpul menjadi satu keluarga seperti manusia, sehingga sering disebut wong samar dan hidup seperti manusia tetapi tidak dapat dilihat oleh manusia awam. Sewaktu-waktu jika dia berkehendak dilihat oleh manusia dia akan memperlihatkan dirinya dan bergaul dengan manusia. Di Bali mayoritas wong samar ini bertempat tinggal di daerah Pulaki Buleleng. Pada umumnya wong samar ini bersifat baik.
Tonya : berwujud manusia tinggi besar, berdiam di pohon yang rindang dan besar. Paling senang diam dipohon beringin, bunut, kepuh, rangdu dan sejenisnya. Tonya ini jarang berkeliaran tidak pernah pergi jauh dari pohon tempat tinggalnya. Sering muncul pada malam hari, jarang siang hari.
Berwujud bagian tubuh manusia
Kumangmang : hanya terdiri atas kepala saja dengan rambut seperti menyala. Bertempat tinggal dilapangan terbuka, di tegalan, juga di semak-semak. Jalannya mengelinding seperti kelapa terbakar, muncul siang hari juga malam hari.
Lawean : berwujud badan manusia tanpa lengan tungkai dan kepala. Bertempat tinggal di semak belukar tetapi sering juga di rumah-rumah penduduk, muncul pada malam hari, kerap juga muncul siang hari.
Tangan-tangan : hanya terdiri atas tangan saja. Jalannya terbang melayang diudara. Bertempat tinggal dirumah penduduk, tempat yang kosong atau semak-semak. Muncul pada waktu malam hari kadang siang hari.
Enjek-pupu : terdiri atas paha sampai kaki, hanya sebelah tungkai saja tanpa badan. Kalau berjalan injakan tapak kakinya menimbulkan suara atau bunyi yang halus dan berirama, merindingkan bulu roma. Biasanya muncul malam hari, mengitari pekarangan rumah menyusuri tembok, bertempat inggal dirumah yang kosong.
Katugtug : terdiri hanya dari lutut ke bawah. Karena suara atau bunyi injakan kakinya yang khas, yakni tug-tug-tug, maka bhuta ini disebut katugtug. Biasanya muncul pada malam hari, tinggal dirumah yang kosong.
Berwujud kerangka manusia
Bhuta jenis ini disebut jerangkong yang terdiri dari rangka yang dapat bergerak, terutama malam hari tinggal ditempat rumah yang kosong.
Berwujud binatang
Anja-anja : berwujud binatang berkaki empat berkepala seperti raksasa, mata melotot besar dengan mulut lebar bertaring panjang dan berambut terurai.
Banaspati-raja : berwujud macan. Sering dari badannya keluar api, sehingga seperti harimau terbakar.
Hanya manusia yang telah melaksanakan dharma dan selaluingat lan eling ngastiti bhakti ring Dewa Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) badannya tidak bisa dilekati oleh para bhuta-bhuti dan Panca Mahabhuta (Sri Durga Dewi / akasa / timur, Dadari Durga / teja / selatan, Sukri Dewi / bayu / barat, Raji Durga / apah / utara, Dewi Durga / pertiwi / dalam tanah).
Kalau manusia kuat dan mampu mengendalikan lima bhuta ini maka mereka akan menjadi sahabat manusia, dan sehatlah manusia. Tetapi kalau manusia mencemari unsur Panca Mahabhuta ini maka dimusuhilah dan krodalah dia menjadi durga menyebabkan manusia menjadi sakit.
Sumber : kb.alitmd.com
UPACARA NYAMBUTIN / TIGA BULANAN DALAM AGAMA HINDU DI BALI
UPACARA NYAMBUTIN / TIGA BULANAN
DALAM AGAMA HINDU DI BALI
Nyambutin atau Nelu Bulanin atau "Tutug Sambutan" adalah upacara tiga bulanan (105 hari), penekanannya agar jiwatman sang bayi yang lahir tersebut benar-benar berada pada raganya. Upacara nyambutin ini juga sebagaimana disebutkan termasuk dalam upacara manusia yadnya sebagai permohonan keselamatan dalam upaya peningkatan kehidupan spiritual menuju kebahagiaan di dunia ini.
Pelaksanaan upacara Nyambutin dalam adat dan kebudayaan, upacara nyambutin ini dipimpin oleh seorang Pemangku, upacara ini dilakukan di halaman rumah (ngatah), antara dapur dan rumah tengah dimana plasenta (ari-ari) si bayi di kubur, untuk sesajen (babaten) diletakan disebuah meja kecil. Sebelum upacara berlangsung, bayi dan orang yang mengikuti kegiatan upacara duduk dibelakang pimpinan upacara, lalu disiapkan daun dadap, benang dan kapas putih.
Urutan upacara dan symbol (niyasa) pada sebuah tentang : upacara tiga bulan dan otonan dalam babd bali dijelaskan sebagai berikut :
Ayah dan ibu bayi mebeakala dengan tujuan menghilangkan cuntaka karena melahirkan.
Nyama bajang dan kandapat "diundang" untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat. Tattwa yang sebenarnya adalah syukuran kehadapan Hyang Widhi atas kelahiran bayi.
Pada saat mecolongan, si Bayi natab banten bajang colong artinya menerima lungsuran (prasadam) dari "kakaknya" yaitu kandapat (plasenta: ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom)
Si Bayi "mepetik" (potong rambut, terus digundul, menghilangkan rambut "kotor" yang dibawa sejak lahir).
Si Bayi "mapag rare" (disambut kelahirannya) di Sanggah pamerajan, memberi nama (yang sesuai dengan nama khas nak Bali), dan menginjakkan kaki pertama kali di tanah didepan Kemulan.
Si Bayi menerima lungsuran (prasadam) Hyang Kumara yaitu manifestasi Hyang Widhi yang menjaga bayi.
Si Bayi "mejaya-jaya" dari Sulinggih, yaitu disucikan oleh Pendeta.
Symbol (niyasa) yang digunakan dalam upacara Tiga Bulanan:
Regek yaitu anyaman 108 helai daun kelapa gading berbentuk manusia, sebagai symbol Nyama Bajang;
Papah yaitu pangkal batang daun kelapa gading sebagai symbol ari-ari,
Pusuh yaitu jantung pisang sebagai symbol getih,
Batu sebagai symbol yeh-nyom,
Blego sebagai symbol lamas,
ayam sebagai symbol atma,
sebuah periuk tanah yang pecah sebagai symbol kandungan yang sudah melahirkan bayi,
lesung batu sebagai symbol kekuatan Wisnu,
pane symbol Windu (Hyang Widhi),
air dalam pane symbol akasa,
tangga dari tebu kuning sepanjang satu hasta diberi palit (anak tangga) tiga buah dari kayu dapdap symbol Smara-Ratih (Hyang Widhi yang memberi panugrahan kepada suami-istri).
Upacara otonan tiga bulanan ini juga disebutkan bertujuan untuk mengucapkan syukur kepada Hyang Widhi atas karunia berupa panjang umur, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan.
Sumber: Media Hindu
DALAM AGAMA HINDU DI BALI
Nyambutin atau Nelu Bulanin atau "Tutug Sambutan" adalah upacara tiga bulanan (105 hari), penekanannya agar jiwatman sang bayi yang lahir tersebut benar-benar berada pada raganya. Upacara nyambutin ini juga sebagaimana disebutkan termasuk dalam upacara manusia yadnya sebagai permohonan keselamatan dalam upaya peningkatan kehidupan spiritual menuju kebahagiaan di dunia ini.
Pelaksanaan upacara Nyambutin dalam adat dan kebudayaan, upacara nyambutin ini dipimpin oleh seorang Pemangku, upacara ini dilakukan di halaman rumah (ngatah), antara dapur dan rumah tengah dimana plasenta (ari-ari) si bayi di kubur, untuk sesajen (babaten) diletakan disebuah meja kecil. Sebelum upacara berlangsung, bayi dan orang yang mengikuti kegiatan upacara duduk dibelakang pimpinan upacara, lalu disiapkan daun dadap, benang dan kapas putih.
Urutan upacara dan symbol (niyasa) pada sebuah tentang : upacara tiga bulan dan otonan dalam babd bali dijelaskan sebagai berikut :
Ayah dan ibu bayi mebeakala dengan tujuan menghilangkan cuntaka karena melahirkan.
Nyama bajang dan kandapat "diundang" untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat. Tattwa yang sebenarnya adalah syukuran kehadapan Hyang Widhi atas kelahiran bayi.
Pada saat mecolongan, si Bayi natab banten bajang colong artinya menerima lungsuran (prasadam) dari "kakaknya" yaitu kandapat (plasenta: ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom)
Si Bayi "mepetik" (potong rambut, terus digundul, menghilangkan rambut "kotor" yang dibawa sejak lahir).
Si Bayi "mapag rare" (disambut kelahirannya) di Sanggah pamerajan, memberi nama (yang sesuai dengan nama khas nak Bali), dan menginjakkan kaki pertama kali di tanah didepan Kemulan.
Si Bayi menerima lungsuran (prasadam) Hyang Kumara yaitu manifestasi Hyang Widhi yang menjaga bayi.
Si Bayi "mejaya-jaya" dari Sulinggih, yaitu disucikan oleh Pendeta.
Symbol (niyasa) yang digunakan dalam upacara Tiga Bulanan:
Regek yaitu anyaman 108 helai daun kelapa gading berbentuk manusia, sebagai symbol Nyama Bajang;
Papah yaitu pangkal batang daun kelapa gading sebagai symbol ari-ari,
Pusuh yaitu jantung pisang sebagai symbol getih,
Batu sebagai symbol yeh-nyom,
Blego sebagai symbol lamas,
ayam sebagai symbol atma,
sebuah periuk tanah yang pecah sebagai symbol kandungan yang sudah melahirkan bayi,
lesung batu sebagai symbol kekuatan Wisnu,
pane symbol Windu (Hyang Widhi),
air dalam pane symbol akasa,
tangga dari tebu kuning sepanjang satu hasta diberi palit (anak tangga) tiga buah dari kayu dapdap symbol Smara-Ratih (Hyang Widhi yang memberi panugrahan kepada suami-istri).
Upacara otonan tiga bulanan ini juga disebutkan bertujuan untuk mengucapkan syukur kepada Hyang Widhi atas karunia berupa panjang umur, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan.
Sumber: Media Hindu
Mantram Sesontengan
Mantram Sesontengan
Sesontengan adalah ucapan penganteb banten dengan kata-kata biasa sehari-hari yang dilakukan oleh para walaka yang belum mempelajari puja ataupun mantra.
Tegasnya sesontengan bukan mantra. Mantra adalah Weda, yaitu wahyu Hyang Widhi yang tidak dapat diubah. Menafsirkan Mantra harus dilakukan oleh orang-orang suci yang ahli di bidang itu agar tidak menyesatkan masyarakat.
Untuk menghindari salah pemahaman, mantra harus diucapkan dalam bahasa aslinya, yaitu Sanskerta, dengan irama tertentu. Mantra utama yang populer di masyarakat adalah Puja Trisandya bait pertama yang dikenal sebagai Mantram Gayatri.
Mantra boleh diucapkan oleh siapa saja asalkan cara mengucapkannya benar, untuk tujuan suci, dalam situasi sakral, dan keluar dari lubuk hati kesucian. Mengucapkan mantra juga dapat disebut sebagai Memantra atau Maweda.
Para Pandita/ Pedanda (atau umumnya disebut Wiku) tidak dapat dikatakan memantra atau maweda karena Weda tidak diucapkan secara utuh baik pada waktu Nyurya Sewana maupun ketika muput karya.
Apa yang diucapkan sudah bercampur antara mantra dengan doa/ rapal dalam bahasa Kawi. Oleh karena itu beliau disebut MAPUJA atau MAMEOS.
Selain itu perlu diketahui bahwa Trisandya bukanlah mantram, tetapi Puja karena tidak seluruh baitnya Weda (Catur Weda).
Mudah-mudahan dengan penjelasan ini anda dapat membedakan antara: SONTENG, PUJA, DAN MANTRA.
Sumber : Stitidharma.org.
Sesontengan adalah ucapan penganteb banten dengan kata-kata biasa sehari-hari yang dilakukan oleh para walaka yang belum mempelajari puja ataupun mantra.
Tegasnya sesontengan bukan mantra. Mantra adalah Weda, yaitu wahyu Hyang Widhi yang tidak dapat diubah. Menafsirkan Mantra harus dilakukan oleh orang-orang suci yang ahli di bidang itu agar tidak menyesatkan masyarakat.
Untuk menghindari salah pemahaman, mantra harus diucapkan dalam bahasa aslinya, yaitu Sanskerta, dengan irama tertentu. Mantra utama yang populer di masyarakat adalah Puja Trisandya bait pertama yang dikenal sebagai Mantram Gayatri.
Mantra boleh diucapkan oleh siapa saja asalkan cara mengucapkannya benar, untuk tujuan suci, dalam situasi sakral, dan keluar dari lubuk hati kesucian. Mengucapkan mantra juga dapat disebut sebagai Memantra atau Maweda.
Para Pandita/ Pedanda (atau umumnya disebut Wiku) tidak dapat dikatakan memantra atau maweda karena Weda tidak diucapkan secara utuh baik pada waktu Nyurya Sewana maupun ketika muput karya.
Apa yang diucapkan sudah bercampur antara mantra dengan doa/ rapal dalam bahasa Kawi. Oleh karena itu beliau disebut MAPUJA atau MAMEOS.
Selain itu perlu diketahui bahwa Trisandya bukanlah mantram, tetapi Puja karena tidak seluruh baitnya Weda (Catur Weda).
Mudah-mudahan dengan penjelasan ini anda dapat membedakan antara: SONTENG, PUJA, DAN MANTRA.
Sumber : Stitidharma.org.
CARA MENGUJI KERAUHAN BENAR ATAU BOHONG – BOHONGAN
CARA MENGUJI KERAUHAN BENAR ATAU BOHONG – BOHONGAN
Membahas masalah kerauhan di forum resmi atau setengah resmi alias obrolan di bale banjar, dalam seminar setengah resmi seperti itu, seorang nara sumber dengan mengutif informasi yang dia peroleh, menggatakan ada tiga cara untuk membuktikan orang itu benar kerauhan atau bohong-bohongan.
Cara pertama
Di sulut api dari kluping (tangkai atau pembungkus bunga) kelapa gading. bila tidak terbakar berarti benar kerauhan. Namun cara ini cukup riskan, karena kalau terbakar kita bisa di tuntut menganiaya orang itu.
Jalan keluar yang lain untuk menghindari tuntutan hukum ini, disodorkan api pasepan yang besar, kalau dia berani nakep (menaruh tangannya) diatas api besar itu, berarti benar kerauhan. Dan tidak bakalan di tuntut menganiaya orang karena kita Cuma menyodorkan saja, atas kemauan sendirilah menyentuh api itu atau tidak. Mungkin yang merasa punya ilmu kebal boleh coba-coba cara ini.
Cara kedua
Ambil air dalam baskom dan isi dengan berbagai bunga, celupkan tangannya, kemudian lihat telapak tangannya. Bila tidak ada air yang nempel di telapak tangannya, berarti benar kerauhan.
Cara ketiga
Ambil debu di tanah, kemudian oleskan di telapak tangannya, kemudian usap-usapkan kedua telapak tangannya agar debu-debu jatuh. Terus ambil kain putih atau tissu, oleskan di telapak tangannya. Kalau tidak ada debu sama sekali yang nempel berarti benar kerauhan.
Ketiga cara ini bisa di gunakan sekaligus, kalau seseorang bisa melewati ketiga ujian ini dengan aman, berarti benar dia kerauhan. Semoga bermanfaat untuk semeton.
Sumber : OrtiBali.com
Membahas masalah kerauhan di forum resmi atau setengah resmi alias obrolan di bale banjar, dalam seminar setengah resmi seperti itu, seorang nara sumber dengan mengutif informasi yang dia peroleh, menggatakan ada tiga cara untuk membuktikan orang itu benar kerauhan atau bohong-bohongan.
Cara pertama
Di sulut api dari kluping (tangkai atau pembungkus bunga) kelapa gading. bila tidak terbakar berarti benar kerauhan. Namun cara ini cukup riskan, karena kalau terbakar kita bisa di tuntut menganiaya orang itu.
Jalan keluar yang lain untuk menghindari tuntutan hukum ini, disodorkan api pasepan yang besar, kalau dia berani nakep (menaruh tangannya) diatas api besar itu, berarti benar kerauhan. Dan tidak bakalan di tuntut menganiaya orang karena kita Cuma menyodorkan saja, atas kemauan sendirilah menyentuh api itu atau tidak. Mungkin yang merasa punya ilmu kebal boleh coba-coba cara ini.
Cara kedua
Ambil air dalam baskom dan isi dengan berbagai bunga, celupkan tangannya, kemudian lihat telapak tangannya. Bila tidak ada air yang nempel di telapak tangannya, berarti benar kerauhan.
Cara ketiga
Ambil debu di tanah, kemudian oleskan di telapak tangannya, kemudian usap-usapkan kedua telapak tangannya agar debu-debu jatuh. Terus ambil kain putih atau tissu, oleskan di telapak tangannya. Kalau tidak ada debu sama sekali yang nempel berarti benar kerauhan.
Ketiga cara ini bisa di gunakan sekaligus, kalau seseorang bisa melewati ketiga ujian ini dengan aman, berarti benar dia kerauhan. Semoga bermanfaat untuk semeton.
Sumber : OrtiBali.com
STRUKTUR PADMASANA SERTA FUNGSI TINGKATANYA DALAM AGAMA HINDU DI BALI.
STRUKTUR PADMASANA
SERTA FUNGSI TINGKATANYA
DALAM AGAMA HINDU
DI BALI.
Sebelum kura-kura di paling bawah adalah yoni yang merupakan bangunan berbentuk tepas yang disebut pradana dan prakerti. Di atas yoni ada bunga teratai yang merupakan simbol stana Dewa Brahma (Brahma Bhaga). Dewa Brahma disimbolkan sebagai Bunga teratai karena dalam Kitab Purana (Brahma Purana, Wisnu Purana dan Siwa Purana), disebutkan Dewa Brahma lahir dari Bunga Teratai yang keluar dari pusar Brahman.
Kura-kura (empas) Bhedawangnala
Bhedawangnala ini dililit oleh dua ekor naga.
Kura-kura merupakan simbol stana Dewa Wisnu (Wisnu Bhaga). Bhedwangnala berasal dari Bahasa Kawi, ‘bheda’ yang berarti lain, kelompok, selisih, dan ‘wang’
Artinya peluang, kesempatan, ‘nala’ artinya api. Jadi Bhedawangnala adalah sekelompok yang meluangkan adanya api. Pengertian api ini bisa berarti nyata sebagai api bumi alias magma, dan bisa bermakna simbol dari energi kekuatan hidup.
Karena letaknya di bawah maka Bhedawangnala ini bermakna sebagai kekuatan bumi ciptaan Hyang Widhi yang perlu dijaga dan ditumbuh-kembangkan.
Naga 2 ekor
Kedua naga ini, Naga Anantabhig dan Basuki, membelit kura-kura.
Bangunan dasar padmasana dengan kura-kura dan naga ini berdasarkan pada cerita pemutaran Mandara Giri. Cerita mengenai usaha para dewa dan para raksasa mencari thirta amerta dengan jalan mengaduk lautan air susu (ksirarnawa). Tongkat pengaduknya mempergunakan Gunung Mandara, sedangkan sebagai dasarnya Dewa Wisnu mengubah dirinya menjadi kura-kura untuk penyangga. Tali pengikat gunung Mandara diminta Sang Hyang Ananta Bhoga. Kenapa dalam padmasana ada 2 naga dan disebutkan sebagai Naga Anatabhoga dan Naga Basuki?
Dalam Lontar Cri Purwana Tatwa dilukiskan bahwa pada saat manusia di dunia mengalami bencana kelaparan, Ida Sang Hyang Widhi memerintahkan Sang Hyang Tri Murti untuk terjun ke pertiwi. Batara Brahma berubah wujud menjadi Naga Anantanhoga, bulu-bulunya menjadi tumbuh-tumbuhan sehingga makmurlah manusia. (ananta = tidak habis-habisnya, bhoga = sandang, pangan dan papan).
Batara Wisnu terjun ke samudra sebagai Naga Basuki dan memberikan kekuatan hidup kepada air sehingga tumbuh-tumbuhan subur dan berbuah lebat. Sedangkan Batara Iswara turun ke angkasa dan berubah menjdan adi Naga Taksaka.
Jadi sebenarnya ada 3 naga dalam padmasana yaitu Naga Anantabhoga sebagai simbol dari tanah dan batu-batuan yang membungkus magma (Bhedawangnala). Lapisan berikutnya adalah lapisan air (air laut, danau sungai) yang disimbolkan dengan Naga Basuki. Sedangkan lapisan terakhir adalah udara yang di angkasa, disimbolkan sebagai naga yang memakai sayap.
Naga Anantabhoga dan Basuki membelit kura-kura, sedangkan Naga Taksaka (yang bersayap) digambarkan pada singgasana di bagian atas dari padmasana yang berbentuk menyerupai kursi, Untuk segi estetika Naga Taksaka ini dilukiskan 2 ekor, di kanan dan kiri kursi.
Naga Anantabhoga dan Basuki melambangkan alam bawah atau bhur loka. Badan padma termasuk singgasana melambangkan alam bwah dan madya loka sebagai atmosfer bumi. Sedangkan swah loka tidak dalam wujud bangunan tetapi pesimpen pedagingan.
Patung Garuda
Terletak di bagian belakang padmasana.
Merupakan kendaraan Dewa Wisnu, simbol Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai pemelihara.
Patung Angsa
Terletak di bagian belakang padmasana.
Merupakan simbol Sang Hyang Saraswati bermakna sebagai ilmu pengetahuan, ketelitian, kewaspadaan, ketenangan dan kesucian.
Karang Gajah, Karang Boma, Karang Buun, dll
Hiasan ini merupakan simbol keanekaragaman alam semesta.
Dari semua uraian di atas, kita bisa simpulkan bahwa padmasana merupaan stana Hyang Widhi Wasa yang dengan kekuatanNya telah menciptakan manusia sebagai makhluk utama dan alam semesta sebagai pendukung kehidupan, senantiasa perlu dijaga kelanggengan hidupnya.
Lokasi Padmasana :
Berdasarkan arah mata angin, padmasana dibedakan dalam 9 yaitu:
1. Padma Kancana : lokasi di timur menghadap ke barat
2. Padmasana: lokasi di selatan menghadap ke utara
3. Padmasari: lokasi di barat menghadap ke timur
4. Padmasana Linga: lokasi di utara menghadap ke selatan
5. Padma Asta Sadana: lokasi di tenggara menghadap barat laut
6. Padma Noja: lokasi di barat daya menghadap ke timur laut
7. Padma Karo: lokasi di barat laut menghadap ke tenggara
8. Padma Saji: lokasi di timur laut menghadap ke barat daya
9. Padma Kurung: lokasi di tengah-tengah, ada 3 ruangan, puncaknya menghadap ke pintu keluar.
Bentuk padmasana:
1. Padma Anglayang: memiliki singgasana bebauran marong tiga, strukurnya 7 palihan, pada dasarnya memakai Bhedawangnala yang dibelit naga.
2. Padma Agung: memiliki singgasana marong kalih, strukturnya 5 palihan, pada dasarnya memakai Bhedawangnala yang dibelit naga.
3. Padmasana: memiliki singgasana bebaturan marong siki, struktur 5 palihan, pada dasarnya memakai Bedawangnala dibelit naga.
4. Padmasari marong siki, strukturnya mapalih 3 yaitu dari bawah ke atas Palih Taman, Palih Sancak dan Palih Sari. Tidak memakai Bedawangnala dan naga.
5. Padma Capah marong siki, strukturnya mepalih kalih, yaitu ring sor disebut Palih Taman dan ring luhur disebut Palih Capah. Tidak memakai Bedawangnala dan naga.
Bangunan padma dibedakan dari bentuk, struktur dan jenisnya, namun mempunyai fungsi yang sama yaitu tempat atau stana Hyang Widhi Wasa, Selain itu jenis padma juga dibedakan dari proses penyelesaian upacara, pemelaspas dan penyuciannya.
Karena Pura merupakan tempat suci maka pada saat pemilihan lokasi pun sudah ada aturan-aturan yang harus diikuti. Lokasi yang dipilih harus tempat yang suci, tanah berbau harum, pada arah matahari terbit (lereng gunung, pada umumnya timur atau utara) serta harus merupakan arah hulu.
Setelah lokasi dipilih maka melakukan persiapan pembangunan, ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh, ngurip-urip (mendem pedagingan). Untuk tahapan pembangunan Pura akan dbahas secara khusus.
Sumber : hindualukta
SERTA FUNGSI TINGKATANYA
DALAM AGAMA HINDU
DI BALI.
Sebelum kura-kura di paling bawah adalah yoni yang merupakan bangunan berbentuk tepas yang disebut pradana dan prakerti. Di atas yoni ada bunga teratai yang merupakan simbol stana Dewa Brahma (Brahma Bhaga). Dewa Brahma disimbolkan sebagai Bunga teratai karena dalam Kitab Purana (Brahma Purana, Wisnu Purana dan Siwa Purana), disebutkan Dewa Brahma lahir dari Bunga Teratai yang keluar dari pusar Brahman.
Kura-kura (empas) Bhedawangnala
Bhedawangnala ini dililit oleh dua ekor naga.
Kura-kura merupakan simbol stana Dewa Wisnu (Wisnu Bhaga). Bhedwangnala berasal dari Bahasa Kawi, ‘bheda’ yang berarti lain, kelompok, selisih, dan ‘wang’
Artinya peluang, kesempatan, ‘nala’ artinya api. Jadi Bhedawangnala adalah sekelompok yang meluangkan adanya api. Pengertian api ini bisa berarti nyata sebagai api bumi alias magma, dan bisa bermakna simbol dari energi kekuatan hidup.
Karena letaknya di bawah maka Bhedawangnala ini bermakna sebagai kekuatan bumi ciptaan Hyang Widhi yang perlu dijaga dan ditumbuh-kembangkan.
Naga 2 ekor
Kedua naga ini, Naga Anantabhig dan Basuki, membelit kura-kura.
Bangunan dasar padmasana dengan kura-kura dan naga ini berdasarkan pada cerita pemutaran Mandara Giri. Cerita mengenai usaha para dewa dan para raksasa mencari thirta amerta dengan jalan mengaduk lautan air susu (ksirarnawa). Tongkat pengaduknya mempergunakan Gunung Mandara, sedangkan sebagai dasarnya Dewa Wisnu mengubah dirinya menjadi kura-kura untuk penyangga. Tali pengikat gunung Mandara diminta Sang Hyang Ananta Bhoga. Kenapa dalam padmasana ada 2 naga dan disebutkan sebagai Naga Anatabhoga dan Naga Basuki?
Dalam Lontar Cri Purwana Tatwa dilukiskan bahwa pada saat manusia di dunia mengalami bencana kelaparan, Ida Sang Hyang Widhi memerintahkan Sang Hyang Tri Murti untuk terjun ke pertiwi. Batara Brahma berubah wujud menjadi Naga Anantanhoga, bulu-bulunya menjadi tumbuh-tumbuhan sehingga makmurlah manusia. (ananta = tidak habis-habisnya, bhoga = sandang, pangan dan papan).
Batara Wisnu terjun ke samudra sebagai Naga Basuki dan memberikan kekuatan hidup kepada air sehingga tumbuh-tumbuhan subur dan berbuah lebat. Sedangkan Batara Iswara turun ke angkasa dan berubah menjdan adi Naga Taksaka.
Jadi sebenarnya ada 3 naga dalam padmasana yaitu Naga Anantabhoga sebagai simbol dari tanah dan batu-batuan yang membungkus magma (Bhedawangnala). Lapisan berikutnya adalah lapisan air (air laut, danau sungai) yang disimbolkan dengan Naga Basuki. Sedangkan lapisan terakhir adalah udara yang di angkasa, disimbolkan sebagai naga yang memakai sayap.
Naga Anantabhoga dan Basuki membelit kura-kura, sedangkan Naga Taksaka (yang bersayap) digambarkan pada singgasana di bagian atas dari padmasana yang berbentuk menyerupai kursi, Untuk segi estetika Naga Taksaka ini dilukiskan 2 ekor, di kanan dan kiri kursi.
Naga Anantabhoga dan Basuki melambangkan alam bawah atau bhur loka. Badan padma termasuk singgasana melambangkan alam bwah dan madya loka sebagai atmosfer bumi. Sedangkan swah loka tidak dalam wujud bangunan tetapi pesimpen pedagingan.
Patung Garuda
Terletak di bagian belakang padmasana.
Merupakan kendaraan Dewa Wisnu, simbol Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai pemelihara.
Patung Angsa
Terletak di bagian belakang padmasana.
Merupakan simbol Sang Hyang Saraswati bermakna sebagai ilmu pengetahuan, ketelitian, kewaspadaan, ketenangan dan kesucian.
Karang Gajah, Karang Boma, Karang Buun, dll
Hiasan ini merupakan simbol keanekaragaman alam semesta.
Dari semua uraian di atas, kita bisa simpulkan bahwa padmasana merupaan stana Hyang Widhi Wasa yang dengan kekuatanNya telah menciptakan manusia sebagai makhluk utama dan alam semesta sebagai pendukung kehidupan, senantiasa perlu dijaga kelanggengan hidupnya.
Lokasi Padmasana :
Berdasarkan arah mata angin, padmasana dibedakan dalam 9 yaitu:
1. Padma Kancana : lokasi di timur menghadap ke barat
2. Padmasana: lokasi di selatan menghadap ke utara
3. Padmasari: lokasi di barat menghadap ke timur
4. Padmasana Linga: lokasi di utara menghadap ke selatan
5. Padma Asta Sadana: lokasi di tenggara menghadap barat laut
6. Padma Noja: lokasi di barat daya menghadap ke timur laut
7. Padma Karo: lokasi di barat laut menghadap ke tenggara
8. Padma Saji: lokasi di timur laut menghadap ke barat daya
9. Padma Kurung: lokasi di tengah-tengah, ada 3 ruangan, puncaknya menghadap ke pintu keluar.
Bentuk padmasana:
1. Padma Anglayang: memiliki singgasana bebauran marong tiga, strukurnya 7 palihan, pada dasarnya memakai Bhedawangnala yang dibelit naga.
2. Padma Agung: memiliki singgasana marong kalih, strukturnya 5 palihan, pada dasarnya memakai Bhedawangnala yang dibelit naga.
3. Padmasana: memiliki singgasana bebaturan marong siki, struktur 5 palihan, pada dasarnya memakai Bedawangnala dibelit naga.
4. Padmasari marong siki, strukturnya mapalih 3 yaitu dari bawah ke atas Palih Taman, Palih Sancak dan Palih Sari. Tidak memakai Bedawangnala dan naga.
5. Padma Capah marong siki, strukturnya mepalih kalih, yaitu ring sor disebut Palih Taman dan ring luhur disebut Palih Capah. Tidak memakai Bedawangnala dan naga.
Bangunan padma dibedakan dari bentuk, struktur dan jenisnya, namun mempunyai fungsi yang sama yaitu tempat atau stana Hyang Widhi Wasa, Selain itu jenis padma juga dibedakan dari proses penyelesaian upacara, pemelaspas dan penyuciannya.
Karena Pura merupakan tempat suci maka pada saat pemilihan lokasi pun sudah ada aturan-aturan yang harus diikuti. Lokasi yang dipilih harus tempat yang suci, tanah berbau harum, pada arah matahari terbit (lereng gunung, pada umumnya timur atau utara) serta harus merupakan arah hulu.
Setelah lokasi dipilih maka melakukan persiapan pembangunan, ngeruak karang, nyukat karang, nasarin, memakuh, ngurip-urip (mendem pedagingan). Untuk tahapan pembangunan Pura akan dbahas secara khusus.
Sumber : hindualukta
REINKARNASI / PUNARBAWA DALAM AGAMA HINDU
REINKARNASI / PUNARBAWA
DALAM AGAMA HINDU
Kelahiran kembali dalam Hindu sesuatu hal yang ditunggu karena berhubungan dengan Tri Rna pertama yang harus dibayar oleh manusia yaitu hutang kepada leluhur. Akan tetapi Punarbhawa juga sekaligus harus dihindari karena dia merupakan penghambatan tujuan Hindu itu sendiri. Punarbhawa akan menjadi tujuan adalah jika mendapatkan kelahiran dalam raga sarira dan sukma sarira yang lebih baik dibandingkan ketika dalam kehidupannya sekarang sebelum meninggal (Nala, 2001). Rna yang kedua adalah hutang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menyebabkan kita ada di dunia ini dan Rna yang ketiga hutang kepada para Rsi yang telah mendidik manusia untuk belajar kebenaran (satyam, siwam dan sundaram).
Perjalanan panjang atman menuju Siwa Lokha tentu banyak hambatan dan tantangan. Hambatan paling utama dan pertama adalah kebingungan (unconsciousness) jati diri atman dalam tubuh manusia yang terikat oleh Panca Maya Kosa. Dalam Taittiriya Upanisad disebutkan annamayakosa, pranamayakosa, manomayakosa, widnyanakosa dan anandamayakosa. Proses kosmis dalam 5 tahapan inilah yang selalu mengaburkan realitas tak terbatas yang tidak terbagi itu.
Punarbhawa bertujuan agar kita bisa memiliki raga dan sukma sarira yang lebih baik, untuk itu sebaiknya kita mampu memilih garbha (kandungan) yang baik. Menurut Pandita Mpu Nabe Daksa Samyoga (2007) ada beberapa cara untuk mencapai ini: Setelah 3 ½ hari pertama kematian kebanyakan orang belum bisa menyadari kematian dirinya. Untuk menyadari hal itu, maka si mati (?) harus berdoa dan mohon bantuan dari Keberadaan Pintu Garbha yang terbuka dan tertutup. Jika melihat orang melakukan senggama jangan tertarik dan tergoda, karena pintu Garbha bisa tertutup kembali. Kita bisa lahir kembali dengan 4 cara melalui: kandungan seorang ibu, telur, biji-bijian, dan cara lain yang bersifat supra natural. Kalau tergesagesa dan salah memilih cara lahir, kita bisa lahir menjadi hewan atau bahkan menjadi tumbuhan. Memilih Garbha begitu penting ketika kita ingin lahir kembali agar bisa menikmati alam dunia yang indah ini. Ada 8 tanda Gharba dengan artinya masing-masing sbb:
Danau dan angsa, sebagai pertanda kita lahir keluarga mapan dan nyaman.
Bangunan-bangunan megah, pertanda peningkatan kesadaran dan kemurnian di dunia yang akan datang.
Danau dan kuda-kuda yang berkeliaran di tepinya, kita akan memperoleh kekayaan tapi kesejahteraan yang semu.
Danau yang dikelilingi oleh hutan yang luas dengan berbagai macam binatang berkeliaran, kita dapat usia yang panjang, tetapi tidak menunjang kehidupan spiritual.
Tempat suci dan Pura yang megah, kita akan lahir dalam alam para Dewata atau lahir dalam keluarga yang religius yang sangat membantu proses kemurnian jiwa kita.
Belukar dan api yang membara, kita akan lahir dalam keluarga yang mengagungkan kekuatan dan kesaktian.
Gua-gua yang gelap atau lubanglubang yang besar yang tertutup kabut, kita akan lahir pada mereka yang masih bersifat hewani.
Bersamaan terlihat padang pasir yang luas, hutan belukar yang gelap, gua-gua yang sunyi dan lapangan tanpa habitat, kita akan lahir dalam kehidupan yang tidak berarti.
Itulah sebabnya kita harus memusatkan pikiran kita sebelum kematian menjemput agar kematian itu menjadi sesuatu yang indah yang diimpikan semua orang.
Sumber : Media Hindu / www.lenteradharma.com
DALAM AGAMA HINDU
Kelahiran kembali dalam Hindu sesuatu hal yang ditunggu karena berhubungan dengan Tri Rna pertama yang harus dibayar oleh manusia yaitu hutang kepada leluhur. Akan tetapi Punarbhawa juga sekaligus harus dihindari karena dia merupakan penghambatan tujuan Hindu itu sendiri. Punarbhawa akan menjadi tujuan adalah jika mendapatkan kelahiran dalam raga sarira dan sukma sarira yang lebih baik dibandingkan ketika dalam kehidupannya sekarang sebelum meninggal (Nala, 2001). Rna yang kedua adalah hutang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menyebabkan kita ada di dunia ini dan Rna yang ketiga hutang kepada para Rsi yang telah mendidik manusia untuk belajar kebenaran (satyam, siwam dan sundaram).
Perjalanan panjang atman menuju Siwa Lokha tentu banyak hambatan dan tantangan. Hambatan paling utama dan pertama adalah kebingungan (unconsciousness) jati diri atman dalam tubuh manusia yang terikat oleh Panca Maya Kosa. Dalam Taittiriya Upanisad disebutkan annamayakosa, pranamayakosa, manomayakosa, widnyanakosa dan anandamayakosa. Proses kosmis dalam 5 tahapan inilah yang selalu mengaburkan realitas tak terbatas yang tidak terbagi itu.
Punarbhawa bertujuan agar kita bisa memiliki raga dan sukma sarira yang lebih baik, untuk itu sebaiknya kita mampu memilih garbha (kandungan) yang baik. Menurut Pandita Mpu Nabe Daksa Samyoga (2007) ada beberapa cara untuk mencapai ini: Setelah 3 ½ hari pertama kematian kebanyakan orang belum bisa menyadari kematian dirinya. Untuk menyadari hal itu, maka si mati (?) harus berdoa dan mohon bantuan dari Keberadaan Pintu Garbha yang terbuka dan tertutup. Jika melihat orang melakukan senggama jangan tertarik dan tergoda, karena pintu Garbha bisa tertutup kembali. Kita bisa lahir kembali dengan 4 cara melalui: kandungan seorang ibu, telur, biji-bijian, dan cara lain yang bersifat supra natural. Kalau tergesagesa dan salah memilih cara lahir, kita bisa lahir menjadi hewan atau bahkan menjadi tumbuhan. Memilih Garbha begitu penting ketika kita ingin lahir kembali agar bisa menikmati alam dunia yang indah ini. Ada 8 tanda Gharba dengan artinya masing-masing sbb:
Danau dan angsa, sebagai pertanda kita lahir keluarga mapan dan nyaman.
Bangunan-bangunan megah, pertanda peningkatan kesadaran dan kemurnian di dunia yang akan datang.
Danau dan kuda-kuda yang berkeliaran di tepinya, kita akan memperoleh kekayaan tapi kesejahteraan yang semu.
Danau yang dikelilingi oleh hutan yang luas dengan berbagai macam binatang berkeliaran, kita dapat usia yang panjang, tetapi tidak menunjang kehidupan spiritual.
Tempat suci dan Pura yang megah, kita akan lahir dalam alam para Dewata atau lahir dalam keluarga yang religius yang sangat membantu proses kemurnian jiwa kita.
Belukar dan api yang membara, kita akan lahir dalam keluarga yang mengagungkan kekuatan dan kesaktian.
Gua-gua yang gelap atau lubanglubang yang besar yang tertutup kabut, kita akan lahir pada mereka yang masih bersifat hewani.
Bersamaan terlihat padang pasir yang luas, hutan belukar yang gelap, gua-gua yang sunyi dan lapangan tanpa habitat, kita akan lahir dalam kehidupan yang tidak berarti.
Itulah sebabnya kita harus memusatkan pikiran kita sebelum kematian menjemput agar kematian itu menjadi sesuatu yang indah yang diimpikan semua orang.
Sumber : Media Hindu / www.lenteradharma.com
Langganan:
Postingan (Atom)






